Keuntungan Kurs, Laba Jababeka Naik Lima Kali Lipat

PT Jababeka Tbk (KIJA) telah melakukan pembukukan total penjualan dan pendapatan konsolidasi Rp 584,76 miliar pada kuartal pertama 2019. Total pendapatan naik 18,56% dibandingkan dengan capaian kuartal I tahun 2018 yang mencapai Rp 495,27 miliar. Namun penurunan pendapatan lahan dan properti KIJA diimbangi oleh pendapatan infrastruktur.

“Pendapatan dari pilar bisnis land development & property menurun 18% menjadi Rp 169,4 miliar pada kuartal I 2019 dari sebelumnya Rp 207,7 miliar, terutama karena tidak adanya penjualan properti dari Kendal dan Morotai selama kuartal I 2019,” ujar Muljadi Suganda selaku Sekretaris Perusahaan KIJA, Kamis (2/5)

Sementara pada tahun sebelumnya penjualan dari Kendal dan Morotai tersebut menyumbang penjualan Rp 48,9 miliar. Pendapatan pilar infrastruktur meningkat 53% menjadi Rp 395,1 miliar pada kuartal I 2019, dibandingkan dengan sebesar Rp 258,7 miliar pada tahun sebelumnya.

Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan pendapatan sebesar 80% yang berasal dari beroperasinya pembangkit listrik PT Bekasi Power selama tiga bulan, dibandingkan dengan dampak dari status reserve shutdown pembangkit listrik PT Bekasi Power selama hampir 3 bulan yang mengakibatkan penurunan penjualan energi listrik kepada PT PLN (Persero).

“Pendapatan berulang (recurring revenue) dari pilar infrastruktur berkontribusi 68% terhadap total pendapatan pada kuartal pertama tahun 2019, dibandingkan dengan 52% pada kuartal I 2018,” lanjutnya.

Leisure & hospitality membukukan penurunan pendapatan 25% menjadi Rp 20,3 miliar pada kuartal I tahun 2019. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan kontribusi pendapatan dari Tanjung Lesung, yang mengalami penurunan jumlah kunjungan turis/wisatawan setelah bencana tsunami yang melanda pesisir barat Banten pada akhir tahun 2018.

Laba kotor Jababeka menurun 22,63% menjadi Rp 222,01 miliar pada kuartal I tahun 2019 dibandingkan Rp 286,93 miliar pada kuartal I tahun 2018. Margin laba kotor konsolidasi Jababeka untuk kuartal I 2019 tercatat sebesar 37,97%, turun dibandingkan dengan 58,17% pada kuartal I 2018.

Penurunan margin laba kotor terutama disebabkan penurunan margin yang berasal dari pilar infrastruktur dan pilar leisure & hospitality. Margin laba kotor infrastruktur yang tinggi pada kuartal I 2018 secara khusus merupakan dampak dari status reserved shutdown pada saat itu. Sedangkan margin laba kotor pilar leisure & hospitality yang rendah pada kuartal I 2019 karena dampak pascabencana tsunami.

Sementara itu, margin laba kotor dari pilar land development & property meningkat karena hasil bauran produk yang terjual di kuartal I 2019. Namun perbaikan ini belum dapat menutupi penurunan kedua pilar lainnya tersebut.

Laba bersih KIJA pada kuartal pertama tahun 2019 melonjak lebih dari lima kali lipat menjadi Rp 76,65 miliar dibandingkan Rp 15,06 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. KIJA mencatat laba selisih kurs Rp 71,83 miliar di kuartal pertama tahun ini. Sedangkan pada kuartal pertama tahun lalu, Jababeka mencatat rugi kurs Rp 59,93 miliar.

sumber : kontan.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *