Kemarau, Seluas 9.358 Ha Lahan Pertanian Gagal Panen

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat sebanyak 9.358 hektare (ha) lahan mengalami gagal panen alias puso akibat musim kemarau. Data lahan gagal panen tersebut masuk hingga 4 Juli 2019. 

Data menunjukkan daerah yang lahannya mengalami gagal panen paling besar terjadi di Jawa Timur. Total luasan lahan gagal panen di kawasan tersebut mencapai 5.069 ha. Daerah lain, Jawa Tengah seluas 1.893 ha, Yogyakarta seluas 1.757 ha, Jawa Barat seluas 624 ha, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) seluas 15 ha. 

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Sumardjo Gatot Irianto mengatakan Kementan untuk mengantisipasi gagal panen tersebut, pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi.

Pertama, memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber air. Ia menyebut terdapat 11.654 unit embung pertanian dan 4.042 unit irigasi yang telah dibangun pada periode 2015-2018 yang akan dimaksimalkan pemanfaatannya dalam mitigasi tersebut.

Kedua, menyiapkan pompa air kepada wilayah terdampak. Jumlah pompa air yang dialokasikan pada periode 2015-2018 mencapai 93.860 unit. Khusus pada daerah terdampak kekeringan pompa air yang tersedia mencapai 19.999. 

Ketiga, menambah area tanam baru untuk mengkompensasi lahan puso. Ia menyebut terdapat 670 ribu ha lahan potensial untuk tanaman baru. Kementan sendiri menargetkan lahan baru bisa panen pada Agustus-September. 

“670 ribu hektare ini kalau ini dikerjakan tiga perempat saja sudah dahsyat itu,” katanya. 

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy mengatakan selain mengakibatkan gagal panen, kemarau juga telah mengakibatkan 102.746 ha lahan terdampak kekeringan. Kekeringan ini melanda lebih dari 100 kabupaten/kota di Indonesia. 

“Sebagian besar wilayah Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sudah tidak mengalami hujan lebih dari 30 hari,” katanya. 

Rinciannya, Provinsi Banten seluas 3.464 ha mengalami kekeringan, Jawa Barat seluasa 25.416 ha, Provinsi Jawa Tengah seluas 32.809 ha, Yogyakarta seluas 6.139 ha, Jawa Timur seluas 34.006 ha, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) seluas 55 ha. 

“Kami harapkan pemanfaatan sumber-sumber air, kami sudah mempunyai 11.654 unit embung pertanian ini mohon dimanfaatkan untuk mengatasi daerah-daerah kering,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *