Anjloknya Harga Ayam, Pemerintah Belum Temukan Solusi

Anjloknya harga ayam ras atau life Birth (LB) masih menjadi persoalan bagi pemerintah dan belum ditemukan solusinya. Kementrian Perdagangan dan Kementrian Pertanian masih mengupayakan untuk normalisasi harga di pasaran.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementrian Perdagangan, TjahyaWidayanti mengatakan sudah sejak dua hari harga ras ayam khusus Pulau Jawa turun mencapai rata-rata 9.883 per kilogram. Anjlok nya harga ayam sudah terjadi sejak 30 Mei mulai Jawa Timur hingga Jawa Tengah, serta pada 9 Juni diikuti oleh Jawa Barat.

Kondisi ini diindikasi terjadi akibat over-supply di tingkat peternak baik peternak mandiri maupun perusahaan perunggasan. Kementrian Perdagangan sebelumya telah melakukan antisipasi dalam tiga minggu terakhir.

Tjahya mengatakan jika pihaknya menekankan bahwa Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) anggota Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas (Arphuin) harus berkoordinasi dengan ritel anggota APRINDO untuk membeli karkas dari peternak dengan harga sesuai harga acuan Permendag nomor 96 tahun 2018, yaitu seharga Rp 18.000 per kg melalui Surat Dirjen PDN Nomor 130/PDN/SD/5/2019.

“Kami juga menindaklanjuti hasil keputusan rapat koordinasi perunggasan di Solo pada 14 Juni 2019 yang diselenggarakan oleh Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan,” ungkap Tjahya.

Untuk mengawasi peredaran stok daging ayam ras, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) telah berkoordinasi dengan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) mengawasi di seluruh cold storage milik anggota Rumah Pemotongan Hewan Unggas (RPHU) khususnya di Wilayah Pulau Jawa.

Namun hingga saat ini, Tjahya mengaku Kemdag belum menerima informasi dari Dinas Perdagangan di daerah maupun dari instansi atau lembaga lainnya khususnya Badan Pusat Statistik yang menyatakan ada indikasi penurunan konsumsi.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *